Tuesday, February 15, 2011

::. Hidup dan Tujuan .::

.:: Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang ::.



Assalamu'alaikum wbt...

Adakah Kita mempunyai tujuan dalam hidup...?


Cuba bayangkan sebentar…  Kita tengah berada di sebuah tempat dan kita berniat datang ke rumah seorang kawan di tempat lain yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya. Alamat sudah ada,  lalu kita pun pergi...

Di tengah perjalanan, kita sampai di 1/3 jalan yang membingungkan. Kita ragu-ragu mahu ambil jalan yang mana.  Kita cuba mencari orang untuk tempat bertanya. Namun sayang tempat itu tidak berpenghuni. Tak seorang pun kita temui.  Kita berupaya menelefon kawan kita, tapi  ‘bad luck’ henset kita kehabisan bateri. Kalaupun henset nyala pun, tempat itu tak ada signal.

Apa kira-kira yang kita lakukan? Jalan mana yang kita ambil? Jalan pertama?  Jalan kedua ? atau yang lain?

Kita cuba berspekulasi. Kita ambil jalan pertama. Setelah kita ambil jalan tersebut dan  hasilnya. Kita tersesat! Rencana menuju rumah kawan tak kesampaian ditambah lagi kita tak tahu jalan untuk pulang.

Keadaan singkat di atas menggambarkan betapa penting kita tahu bagaimana jalan mencapai tujuan. Kita tak cukup memiliki tujuan, namun perlu tahu bagaimana cara mencapainya.

Saya yakin kita semua punya cita-cita. Mungkin ada yang ingin menjadi pengusaha,” Engineer” atau doktor, pegawai, guru, atau apapun. Walau apapun cita-cita kita hanya mungkin terwujud bila kita tahu bagaimana cara mencapainya.

Soal impian atau cita-cita sememangnya semua orang  memilikinya kecuali sememangnya dia tidak mempunyai akal yang waras atau lebih dikenali sebagai ‘G.I.L.A.’. Terlalu tinggi sangat mungkin impian yang ingin kita capai. Yang banyak terjadi adalah justeru kita tak tahu bagaimana cara mewujudkannya.

Sedangkan tujuan yang baik memberi kita panduan supaya kita tidak melakukan tindakan yang bercanggah dengan tujuan kita. Jika kita bertujuan baik, kita tidak akan pernah mahu mencemarinya dengan setitik dengki di dalam hati. Apatah lagi merosakannya dengan tindakan yang merugikan orang lain. Atau hal-hal buruk lainnya.

Makanya, jika seseorang lebih banyak berperilaku buruk. Mementingkan dirinya sendiri. Menghalalkan segala cara boleh dipastikan bahawa orang itu mendefinisikan tujuan hidupnya ke arah yang buruk. Sebab, jika tujuan mereka baik pasti akan tercermin pula di dalam sikap, tindak-tanduk, dan perilakunya setiap hari. Pendek kata, tujuan yang kita tentukan memberi arah kepada kita atas jalan mana yang harus kita tempuh ketika kita berada disebuah persimpangan.

Selain memberi arah, tujuan hidup juga memberi kekuatan jiwa. Jika kita sudah mempunyai tujuan mulia, maka kesulitan hidup macam apapun yang merintangi, pasti akan kita hadapi. Jadi, kita tidak mudah menyerah kerana kita tahu, meskipun sulit, tapi itu adalah jalan yang akan membawa kita menuju ke tempat yang kita tuju. Sedangkan, jalan lain – meskipun kelihatannya indah – bukan membawa kita ke tempat yang kita cita-citakan. Dengan begitu kita boleh menjadi peribadi yang berketrampilan.

         Apakah tujuan hidup kita? Adakah mencari ketenangan, kekayaan, kedamaian, kekuasaan atau apa yang diinginkan. Jawapan kita bervariasi disertai dengan alasan-alasan tersendiri. Lalu kita bertanya lagi, apakah semua itu sudah dapat diraih atau dicapai? Hampir semuanya menjawab ‘BELUM’. Kenapa? Kerana kadang-kadang atau seolah-olah tujuan hidup itu sudah diraih namun kemudian menghilang lagi.

Saya tersenyum bila terfikirkan hal ini. Bererti itu bukanlah tujuan hidup yang kita cari sebenar-benarnya. Sebab jika itu tujuan hidup kita, dan kita merasa sudah mendapatkannya maka anda tidak akan pernah kehilangan lagi. Kita bertanya lagi, untuk meraih tujuan hidup kita, apakah kita tahu jalannya? Jika di ibaratkan ingin menuju ke suatu tempat maka kita terlebih dahulu harus tahu jalan mana yang akan ditempuh. Banyak dari kita menjawab dengan gelengan kepala. Lalu kita balik bertanya balik ,apa tujuan hidupku?

Kalaulah jawapan saya sendiri tentang tujuan hidup. Pertama… saya akan membimbing diri saya dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan menghantarkan saya untuk mengetahui apa sebenarnya tujuan hidup manusia itu. Saya katakan kepada diri sendiri, bahawa tujuan ‘Hidup’ saya adalah kenali TUHAN untuk mencari keredhaan TUHAN. Tuhan saya adalah Allah swt.

                Sebab…  jika kita sudah menemukan keredhaan Tuhan, maka dunia akan berada dalam genggaman tangan kita. Ketenangan, kebahagiaan, kekayaan, terutama  Syurga –Nya dan yang lain-lain  akan dengan mudah diraih. Namun sebelum kita mencari keredhaan Tuhan maka kita harus mengetahui terlebih dahulu siapa diri kita sebenarnya.

Siapa ‘Diri’ kita sebenarnya?  Kadangkala kita terdiam sambil berfikir. Tidak ada satu pun yang tahu siapa diri mereka sebenarnya.  Kalau  saya akan bertanya beberapa hal tentang diri saya sehingga akhirnya boleh  mengenai diri sendiri dan apa hakikat sebenarnya manusia itu. Siapa yang telah memberikan ilmu dan pengetahuan sehingga kita boleh berfikir, menganalisis dan mengambil sebuah keputusan? Pertama dalam fikiran ‘Guru’. Bukan ada yang lebih tinggi lagi. Dia-lah Allah swt. Dia yang mengajarkan kepada kita tentang suatu ilmu dan memberikan kita pengetahuan sehingga manusia memiliki kemampuan tertentu. Lalu… apa hakikat di balik semua itu. Sedarilah bahawa sesungguhnya manusia itu ‘JAHIL’ (tidak tahu apa-apa).

Apakah kita percaya? Kita harus percaya dan yakin. Tidak sedikit manusia yang mengetahui tentang suatu kebenaran namun tetap melanggarnya.  Itu menunjukkan kebodohan dari manusia. Apa yang kamu bawa ketika lahir dan ketika mati? Tidak ada. BENAR. Ketika lahir anak manusia hanya membawa tangisan. Dan ketika mati dia hanya membawa amal dan kain putih saja. Ertinya, hakikat manusia yang kedua adalah MISKIN / FAKIR. Lalu…. pantaskan manusia sombong dengan kekayaan yang dimilikinya? Jawabnya tentu tidak. Semua itu hanyalah pinjaman.

Ingatlah hal itu. Jangan pernah menyayangi sesuatu terlalu berlebihan. Sebab jika suatu saat nanti Dia Allah yang Maha Memiliki Segala Sesuatu akan mengambilnya dari kita sebagai ujian maka kita tidak akan merasa terlalu kehilangan kerana kita sudah menyedari bahawa yang kita miliki itu sesungguhnya hanyalah sementara.

Siapa yang telah memberi kita kekuatan untuk melakukan sesuatu atau bergerak? Dialah Allah swt. Tanpa kuasa dan kehendak-Nya nescaya manusia tidak akan mampu untuk mengedipkan matanya sekalipun. Lalu…  pantaskah manusia sombong kerana merasa telah memiliki kekuasaan dan kekuatan tertentu? Jawabnya tentu saja tidak. Hakikat manusia yang ketiga adalah ‘LEMAH TAK BERDAYA’.

Pernahkah kita memberi peringatan atau sekadar nasihat kepada sesamamu? Jika pernah, maka itu bagus. Terlepas apakah orang yang kita nasihati itu mau mendengar atau tidak. Tapi jika belum, maka sesungguhnya kita itu rugi.

Dalam Surah Al-Ashr: 3, dijelaskan bahawa manusia dianjurkan untuk saling nasihat menasihati dalam kebenaran dan dalam kesabaran. Lalu… apa hakikat manusia?  ‘SENTIASA DALAM KEADAAN RUGI’, kecuali mereka-mereka yang saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Saya sering bertanya kepada diri sendiri. adakah diri ini sedar setelah merenungi tentang perkara tadi. Saya berharap kita semua  boleh menyedari dan merenunginya sehingga kita tahu siapa diri kita sebenar-benarnya. Ini kerana, jika kita sudah mengetahui hakikat diri kita sebenarnya maka kita pun akan mengetahui Siapa Tuhan kita sebenarnya. Dialah Allah swt yang telah memberi diri ini dan kita semua hidup dalam kehidupan ini serta memberi petunjuk arah tujuan kita. Di sini juga saya berharap ini dapat menjadi bahan renungan bagi kita semua dan diri saya sendiri. Mudah-mudahan bermanfaat.   Ameen…~


“Then, it doesn’t matter which way you go at least we have plan that bring us to our goal”

-ANNAEM-


Sebenarnya, tidak masalah jika kita harus mengubah tujuan hidup beberapa kali. Hal yg terpenting adalah  setiap saat kita mempunyai tujuan hidup yang ingin dicapai. Setidaknya kita tahu ke mana kita akan berjalan dan strategi apa yang harus diambil untuk meraih tujuan dan impian kita. Berikut ini adalah ~Cara Yang 'Bisa' Kita pake Untuk Menetapkan Tujuan Hidup kita~ :

  • Apa sebenarnya keinginan kita?


Tanyakan pada hati nurani, apa sebenarnya keinginan kita untuk beberapa tahun ke depan?  Tidak ada salahnya  kita bermimpi. Kita tidak perlu malu mengakuinya, lagipun pula, tidak ada ‘kene bayar’ yang harus kita keluarkan untuk sekadar bermimpi.

  • Kumpulkan informasi.


Dengan mengumpulkan informasi, Kita akan lebih mudah mencapai tujuan yang diinginkan. Jika ada orang lain yang sudah berhasil melakukan yang kita inginkan, belajarlah dari mereka. Lakukan apa yang mereka kerjakan…!!

  • Jangan diam.


Lakukan sesuatu dan secara terus menerus yang akan membawa kitaa pada impian hidup yang diinginkan!!




  • Tingkatkan kemampuan


Jika ada cara yang kita lakukan terbukti efektif  dan mendekatkan pada tujuan yang ingin dicapai, maka  mari kita berusaha untuk meningkatkan kemampuan dan menambah kecepatan gerak kerja agar tujuan hidup kita lebih cepat tercapai.


Jika semua hal di atas kita lakukan secara terus menerus tanpa lelah dan bosan, maka  kita akan mendapatkan tujuan hidup yang diinginkan. kita ibaratnya adalah seorang ‘pemahat’ atas  gambaran kehidupan kita sendiri. Dan seorang pemahat yang baik akan selalu memiliki rencana terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil yang  terbaik. Dalam hal ini, kitapun hanya boleh sebesar dan sebahagia sebagaimana tujuan yang telah kita tentukan. Oleh sebab itu, ‘pahatlah’ diri kita sebaik-baiknya...!!


“Life with goal but no plans to reach them, you are like ships that sail with no destination”  

-ANNAEM-


Wallahu'alam...



p.s -  ‘saya tak pilih jadi doktor, Ayah saya yang suruh saya dan Allah swt menetapkannya. Saya terima dgn rela hati kerana saya rasa itu telah menjadi  ‘JODOH’ saya… :D’ walaupun masih de rase kempunan nak jadi engineer..!!























:::ANNAEM:::.
-jakartabarat-
-selasa, 1810, 15022011-

Wednesday, February 9, 2011

::. Tolong Ingatkan Aku .::

Sahabat...
Jika hari aku terlalu sibuk dengan urusan duniawi… "tolong Ingatkan aku”
Mengapa engkau hanya diam ketika melihat kebatilan dan kemungkaran yang mungkin sering ku lakukan?
Apakah engkau tidak melihat kalau sahabatmu ini juga lemah?

Rakan...
Aku mungkin kerap kali mengabaikan agungnya sebuah ketaatan,
Aku mungkin sering mendustaiNya,
Mencari-cari dan meraba-raba jalan yang gelap,
Nafsu merasuk minda,
Kecewa menyelubungi jiwa,
Aku lupa.

Kawan...
Jika saat ini ku lalai,
Tolong ingatkan aku…
Tentang umurku yang telah tersia-sia,
Tentang cintaku yang tiada makna,
Tentang kataku yang menipu,
Tentang kerinduanku yang salah tuju,

Tolong ingatkan aku
Kisah kau tersedar
Tentang kelupaanku bahawa Izrail pasti akan mengunjungiku,
Tentang sempitnya kubur,
Tentang hari pembangkitan,
tentang al-Mizan,
Tentang hisab Allah,
Terutama tentang seksa Neraka.

Mari patahkan papan markah lama,
Mari padamkan buku tiga lima,
Biar luka sembuh sendiri,
Biar agar tidak lupa ditebus hari.

Teman...
Jika suatu saat nanti mungkin Allah melemparku ke dalam nerakanya,
Tapi sedangkan tugasmu untuk mengingatkan aku,
Apakah kamu tidak sedar itu juga pasti memberi kesan kepadamu
Kerana itu tujuan menjadi sahabat…
Bertemu kerana Allah, berpisah juga kerana Allah
Mencintai kerana Allah, membenci juga kerana Allah

Tolong ingatkan aku, jika aku memang lupa...~







.:::ANNAEM:::.
-jakartabarat-
-rabu, 0240, 09022011-

Friday, February 4, 2011

::. I'm Not Gonna Move .::



Like the big scar on my face.
Like the unwelcome intruder in me maybe.
Like this space that never felt like me but caught my imagination somewhat I wanted to live in it for a while.
White curtains with a rainbow on the wall.
A happy imagery to accompany you.
And its not a lie because you never said anything about the heart inside that you are still discovering.
Thinkin maybe you'll come back here
And you'll see me waiting for you
So, I'm not moving.
Until I am off... someday, 
When God called me back,
To 'somewhere else'.
Before that happen I just want to say that...

Thanks for being with me...




.:::ANNAEM:::.
-jakartabarat-
-friday, 1620, 04022011-

Thursday, February 3, 2011

::. Being Human .::

Assalamu'alaikum...
_______________________________________________________________


Being a human.
You will receive a body as a vessel,
You may like it or hate it,
but it's yours to keep for the entire period of life.

You will need to learn lessons,
You are enrolled in a full-time,
informal 'school' called life.

There are no actual mistakes, only lessons, 

Because making a mistakes also a lesson,
Growth is a process of trial, error
and experimentation. 

Making hipothesis.
The "failed" experiments are as much
a part of the process as the experiments
that ultimately "work".

Lessons are repeated until they are learned.
A lesson will be presented to you in various forms 

Direct or indirect,
until you have learned it.
When you have learned it,
you can go on to the next lesson.

Learning lessons does not end until you life ended.
There is no part of life that doesn't contain it's lessons.
Even you're alive for 100 years or more,
there are still much more lessons to be learned.

"There" is no better than "here".
When your "there" has become "here",
you will simply obtain another "there"
that will again look better than "here".

Other people are merely mirrors of you.
You can not love or hate something
about another person unless it reflects to you
something you love or hate about yourself.

What you make of your life is up to you.
You have all the tools and resources you need.
What you do with them is up to you.
The choice is yours...







wallahu'alam...~













.:::ANNAEM:::.
-jakartabarat-
-thursday, 0640, 03022011-


Monday, January 31, 2011

::. TanggungJawab Dalam Keluarga .::



.::Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang ::.


Assalamualaikum...~





Sungguh, baiknya umat Islam hanyalah dapat diraih dengan cara kembali kepada ajaran Islam yang lurus itu sendiri. Baik dalam permasalahan aqidah, cara pengajaran mahupun aturan kehidupan. Ajaran Islam seharusnya dipraktikkan dalam seluruh aspek kehidupan, kemasyarakatan, ekonomi mahupun politik. Asas dari seluruh elemen masyarakat adalah sebuah keluarga muslim. Pembinaan (Tarbiyah) keluarga muslim berujud pendidikan Islam dan pelaksana utama dari pendidikan ini adalah bermula dengan seorang ibu muslimah dan ayah yang muslim.



Tegaknya sebuah keluarga muslim memberikan andil yang sangat besar bagi terlaksananya dakwah islamiyah. Islam sendiri memberikan tanggung jawab yang begitu agung kepada keluarga baik dia seorang ayah mahupun ibu untuk memberikan pendidikan, pengetahuan, dakwah dan bimbingan kepada anggota keluarganya.



Ali bin Abi Thalib ra dan Ibnu Abbas ra menyatakan “Berikan pendidikan, ajarilah dengan ketaatan kepada Allah, serta takutlah dari kemaksiatan. Didiklah anggota keluargamu dengan dzikir yang akan menyelamatkan dari api neraka”



 ( Ibnu Katsir dan At Tabari).


Berkaitan dengan tanggung jawab keluarga muslim ini Nabi Muhammad saw menerangkan secara umum tanggung jawab seorang pemimpin.



“Ketahuilah bahawa kalian semua adalah pemimpin, dan kalian akan ditanya tentang kepemimpinan kalian. Pemimpin di antara manusia dia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Lelaki  adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Isteri adalah pemimpin dalam rumah tangga serta anak-anak suaminya dan dia akan ditanya tentang mereka. Budak/ pembantu / hamba adalah pemimpin dari harta tuannya dan dia akan ditanya tentangnya. Ketahuilah bahawa kamu sekalian adalah pemimpin dan kalian akan ditanya tentang tentang kepemimpinannya”



(HR  Bukhari)







Tanggung jawab yang disebut pada hadith di atas bersifat umum dan menyeluruh. Tanggungjawab seorang suami tidaklah hanya sebatas memenuhi keperluan material sahaja, demikian halnya dengan seorang isteri. Ia tidaklah hanya bertanggungjawab terhadap kebersihan rumah, atau menyiapkan makanan semata. Akan tetapi keduanya dari kedudukan yang berbeza mempunyai tanggungjawab terhadap pendidikan keimanan keluarga termasuk di dalamnya tanggung jawab dakwah.



Al Qur’an dan Hadith sumber pedoman kita menegaskan tanggungjawab kedua ibubapa dalam aktiviti keluarga dan pengaruhnya terhadap anak. Seorang isteri memiliki tanggungjawab yan berbeza dengan dengan suami. Dan ia adalah pemimpin sebagaimana yang disinggung dalam hadith tadi. Secara nyata tanggungjawab seorang isteri terhadap rumah tangga dan anak-anak suaminya sangatlah luas. Panjangnya kebersamaan seorang ibu dengan anak secara automatik memberikan warna tersendiri bagi perkembangan pendidikan fisik maupun mental dari si anak.



Apabila kita timbang tanggungjawab seorang suami dengan seorang isteri maka akan kita dapatkan bahawa tanggungjawab seorang isteri sangatlah besar kerana dialah yang melahirkan anak, menyusuinya, dan menemani serta mendidik anak dari jam ke jam, hari ke hari. Bahkan ketika seorang anak masih kecil, kemudian berkembang menjadi remaja dan menjelang dewasa, di dalam rumah mahupun di luar rumah ibu senantiasa mewarnai bentuk kehidupan anak hingga mungkin ayah telah tiada maka ibulah yang tetap mendampingi puteranya untuk menghadapi masa depan. Inilah hikmah diperintahkannya wanita untuk berada di rumahnya.



“Dan hendaknya kalian tinggal di rumah-rumah kalian”



 (QS Al Ahzab: 33)



Inilah sebagian tanggung jawab yang diberikan oleh Islam kepada keluarga.
“Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka”



 (QS At Tahrim: 6)




Dalam kehidupan keluarga sudah seharusnya saling mengisi dan memberi dalam suasana apapun. Kerana keluarga merupakan unit yang teramat kecil dalam kehidupan sosial masyarakat, baik buruknya sebuah keluarga merupakan cermin dari kehidupan bermasyarakat. Sebuah keluarga yang baik bermaksud mendukung berdirinya bagai sebuah masyarakat yang baik dan maju. Maka dari itu ciptakan keluarga yang baik, ideal dan harmoni. Namun dalam pembentukan keluarga yang harmoni perlu banyak dukungan dan pengertian yang cukup antara suami dan isteri dan juga anggota keluarga yang lain.



Apabila seorang ibu melahirkan, dia mengucapkan… "Subhanallah.. betapa besar rahmat Allah kepada mahluknya", desah seorang ibu yang baru saja keluar dari ruang bersalin dengan cucuran air mata dan peluh keringat didahinya. Empat puluh minggu sudah ia mengandung si buah hati yang telah dinanti-nantikannya. Pada akhirnya si buah hati hadir ke dunia dengan seizinNya. Dan tidak terasa, air mata pun menitis ketika pertama kali menyusui  si buah hati di dalam dakapannya. Terbayang dalam ingatannya, betapa besar pengorbanan ibu dan ayahnya yang telah membesarkannya. Rasanya, barulah ia sedar, apa sajakah yang telah ia berikan untuk kedua orang tuanya selama ini dan apa sajakah yang telah ia membalas terhadap kedua orang tuanya...?



Mungkin begitulah perasaan setiap anak yang baru saja merasakan peran barunya sebagai ibubapa. Islam sebagai agama yang sempurna mengatur hubungan ibubapa-anak ini. Dengan berpedoman kepada Al Qur'an dan As Sunnah, akan disebutkan bagaimana Islam mengatur hubungan ini.




Tanggungjawab ibubapa terhadap anaknya:
1. Berusaha menjaga anak dari gangguan syaitan sebelum dilahirkan
2. Mempunyai perhatian terhadap anak ketika masih dalam rahim ibunya
3. Menampakkan kegembiraan ketika anak dilahirkan
4. Azan ditelinga anak yang dilahirkan
5. Menyuapi anak yang dilahirkan dengan kurma yang dimamah
6. Memberikan nama yang baik
7. Menyembelih aqiqah, mencukur rambut anak
8. Mengkhitan
9. Menyusui
10.Memberikan pendidikan dan pengajian
11.Memberikan nafkah
12.Menyayangi dan bersikap lemah lembut terhadap anak
13.Memperhatikan keadaannya dan mengarahkannya untuk mendapat pekerjaan yang disukai
14.Melatih bekerja dan menghindarinya dari sifat malas
15.Menjaga kesuciannya dan menikahkannya di kala ia perlukan dan mampu
16.Menyamakan pemberian kepada anak




Islam telah memberikan tuntunan bagi umatnya di dalam menjalankan peranan kehidupannya sebagai ibubapa ataupun sebagai anak. Begitu sempurnanya ajaran Islam, sehingga seorang anak telah dijaga keselamatannya sebelum menjadi calon bayi dan ketika menjadi janin pun telah diperhatikan, misalnya dengan sering mengajak berbicara atau membacakan Al Qur'an ketika anak masih terbungkus di dalam rahim ibunya. Dan di saat kelahirannya pun,disyariatkan dalam Islam untuk menyambut gembira atas berita kelahiran. Kemudian mengenalkan kalimat Allah pada pertama kalinya dengan mengumandangkan azan pada telinga kanan dan iqamat pada telinga kiri. Lalu memamahkan kurma untuk membersihkan langit-langit mulut sang anak.



Dan pada hari ketujuh, dianjurkan menyembelih aqiqah, mencukur rambut yang kemudian bersedekah seberat timbangan cukuran rambutnya dan memberikan nama yang baik. Yang tidak lain mempunyai hikmah sosial dan kebersihan.



Kemudian para ibu dianjurkan menyusui bayinya sampai umur dua tahun, bagi yang ingin menyempurnakan penyusuannya. Dan untuk anak laki-laki diwajibkan khitan, yang tak lain adalah untuk kebersihannya.



Anak dibesarkan dengan lemah lembut, dengan kasih sayang, dan diberikan pendidikan, nafkah lahir dan batin. Terhadap anak perempuan, orang tua berkewajiban menghidupinya sampai ia bersuami. Sedangkan bagi anak lelaki, begitu memasuki akil baligh, ia berkewajiban menghidupi diri, sesuai dengan yang diajarkan oleh kedua ibubapanyanya. Dengan demikian untuk anak laki-laki, ia sudah mulai belajar bertanggungjawab. Sedangkan untuk anak perempuan, kesucian dan kemuliaannya akan tetap terjaga, dengan adanya tanggung jawab ibubapa kepadanya.

Tanggung jawab anak terhadap ibubapa:
1. Berbuat baik terhadap orang tua
2. Tidak durhaka kepada orang tua
3. Berbakti setelah keduanya meninggal





Sebagai anak, Allah swt perintahkan untuk berlaku baik kepada kedua orang tua, dan bila keduanya telah berusia lanjut, kita harus semakin berbuat baik kepadanya, tidak sepatah kata 'ah/cih' pun yang dibolehkan keluar dari mulut kita. Kerana termasuk dosa besar apabila kita durhaka kepadanya.
"Abu Hurairah meriwayatkan, bahawa ada seorang lelaki menghadap Rasulullah saw, untuk menanyakan siapakah orang yang lebih patut diperlakukan dengan baik? Maka jawab Rasulullah saw: "Ibumu". Ia pun kemudian bertanya lagi: "lalu siapa lagi?"  Maka jawab beliau tetap: "Ibumu". Ia pun bertanya lagi: Lalu siapa lagi? Jawab beliau tetap: "Ibumu". Lalu ia bertanya lagi: "Lalu siapa lagi?". Maka kali ini jawab beliau: "Ayahmu".



(HR Bukhari dan Muslim)





Allah juga menyuruh kita sebagai anak untuk bersyukur kepadaNya dan kepada ibubapa kita.
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibubapanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepada Ku dan kepada dua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada Ku lah kembalimu".



(QS Luqman: 14)




Dan begitu pula bila keduanya dipanggilNya pun, kita masih berkewajiban berbakti kepadanya iaitu dengan menshalatkannya. membacakan istighfar, melaksanakan wasiatnya, menghubungi keluarganya dan menghormati teman-teman keduanya.



Wallahu'alam...~







.:::ANNAEM:::.
-jakartabarat-
-isnin, 0920, 31012011-

Saturday, January 29, 2011

::. Sesungguhnya Aku Mencintaimu Kerana Allah SWT.::






.:: Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang ::.

Ya Allah, aku berdoa untuk seorang wanita, yang kelak akan menjadi bahagian dari hidupku,

Seorang yang sungguh mencintaiMU lebih dari segala sesuatu,
Seorang wanita yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau,
Seorang wanita yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMU,

Wajah cantik dan sifat luaran tidaklah penting,
Yang paling penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai akan Engkau,
dan memiliki keinginan untuk mendekati  Engkau,
dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup,
sehingga hidupnya tidaklah sia-sia,

Seseorang yang memiliki hati yang bijak,
bukan hanya otak yang cerdas,
Seorang wanita yang tidak hanya mencintaiku,
tetapi juga menghormati aku,

Seorang wanita yang tidak hanya sebagai teman hidupku,
tetapi dapat juga menasihati ketika aku berbuat kesalahan,
Seorang yang mencintaiku bukan kerana apa yang ada pada diriku
tetapi kerana hatiku,

Seorang wanita yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi sama ada susah atau senang,
Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang lelaki ketika berada di sebelahnya,
Aku tidak meminta seorang yang sempurna,
Namun aku meminta hanyalah dirinya,

Seorang wanita yang memerlukan dukunganku sebagai peneguhnya,
Seorang wanita yang memerlukan doaku untuk kehidupannya,
Seseorang yang memerlukan senyumanku untuk mengatasi kesedihannya,
Seseorang yang memerlukan diriku untuk membuat hidupnya menjadi lebih sempurna,


Dan aku juga meminta,

Buatlah aku menjadi seorang lelaki yang dapat membuat wanita itu bangga dan bahagia,

Berikan aku sebuah hati yang sungguh mencintaiMU, sehingga aku dapat
mencintainya dengan cintaMU, bukan mencintainya dengan sekadar  kerana cintaku,

Berilah kekuatan sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya,

Berikan aku yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaanMU dan pemberi semangat, sehingga aku dapat mendukungnya setiap hari,

Berikanlah aku senyuman yang manis dan menenangkan hatinya,


Dan apabila akhirnya kami akan bertemu nanti,
aku berharap kami berdua dapat menyatakan, mengungkapkan dan meluahkan dalam hati kami,
“Betapa besarnya Allah swt itu kerana Engkau telah memberikan kepadaku seseorang yang dapat membuat hidupku menjadi lebih sempurna”,

Aku mengetahui bahawa Engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang tepat dan
Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang Kau telah tentukan,







Kerana sesungguhnya aku mencintai dirinya keranaMu  Ya Allah…~



Ameen...









.:::ANNAEM:::.
-jakartabarat-
-sabtu, 0644, 29012011-

Thursday, January 20, 2011

::. Menjadi Ibu Bapa atau ‘Bakal’ Ibu Bapa .::



.::Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang::.


Assalamualaikum...~

Ramai orang merasakan menjadi Ibu Bapa itu suatu perkara yang mudah namun sebenarnya tidak... Sebagaimana kita perlu banyak melakukan persediaan diri sebelum mencari pasangan hidup, begitulah juga kita sewajarnya melengkapkan diri sebelum merelakan untuk menjadi Ibu atau Bapa. Manusia dijadikan Allah swt berbeza dengan haiwan. Burung kalau nak bertelur Allah jadikan pandai mereka membuat sarang secara otomatis tanpa perlu belajar. Manusia secara fitrahnya memang berbeza dengan haiwan dimana manusia diwajibkan belajar termasuk belajar bagaimana untuk menjadi Ibu yang solehah dan menjadi Bapa yang soleh. Ibu dan Bapa mempunyai bertanggungjawab terhadap keluarga yang bakal dibina. Anak merupakan salah satu tanggungjawab dan amanah Allah kepada Ibu Bapa. Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda:

"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci yakni Muslim). Kedua-dua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi."
(HR Bukhari)

Menurut Imam Al-Ghazali ra pula, anak adalah seperti sebutir batu permata yang belum digilap. Ibu Bapalah yang akan mencanai dan menggilapnya sehingga menjadi berlian yang indah dan berkilauan. Jelas, Ibu Bapalah yang akan menentukan sama ada anak-anaknya "menjadi" atau tidak. Semua ibu bapa mahu membesarkan anak-anak mereka untuk menjadi insan yang mulia tetapi ramai yang tidak tahu cara yang berkesan untuk melakukannya.

Anak adalah permata hati di setiap Ibu Bapa. Tanpa kehadiran anak, bagi keluarga seperti sayur tanpa garam serta dalam bahtera rumah tangga, anak adalah suatu pemupuk perasaan antara ‘Ayah’ dan ‘Mak’ dan pasti setiap Ibu Bapa menginginkan anaknya tumbuh menjadi keperibadian dan ketrampilan yang baik dan mandiri. Ibu Bapa mempunyai terlalu banyak harapan kepada anaknya, tetapi apakah anak itu dapat menjalaninya dengan baik?

Untuk itu Ibu Bapa juga harus dapat memahami perkembangan anak tersebut, kerana anak itu bukannlah alat untuk memenuhi keinginan Ibu Bapa dan bukanlah manusia dewasa bersaiz kecil. Si Anak juga adalah seseorang yang dapat hidup sendiri dan mengatur kehidupannya, tapi sebagai Ibu Bapa, wajar kita mengkhawatirkan anak kita, hanya tergantung dari cara kita untuk dapat menyalurkannya berfikiran positif dan memberikan sedikit kebebasan, kiranya dapat menjadi ruang tumbuh bagi perkembangan mereka. Bukan dari cara kita yang selalu memarahi mereka tanpa alasan yang kukuh dan ingatlah bahawa ketika kita membentak mereka, maka akan tumbuh suatu sikap pemberontak dalam jiwanya. Apakah itu yang mereka inginkan terjadi pada anak?

Terjadinya pengabaian anak atau ‘child abuse’ dipengaruhi dari banyak faktor, salah satunya dari faktor internal, iaitu dari Ibu Bapa yang agresif dan impulsif dan juga dari Ibu atau Bapa tunggal dan ‘bakal’ Ibu Bapa muda yang belum siap memiliki anak. Dari sudut apapun, kekerasan sangat dilarang keras dan juga sangat dibenci oleh setiap orang tapi bagi sebahagian masyarakat malah menjadikan kekerasan adalah suatu kedisiplinan dalam cara mendidik anak. apakah dengan cara kita memukul anak dan membentaknya mereka akan langsung tunduk kepada kita? awalnya mungkin mereka akan takut dan menjadi seseorang yang paranoid tapi lama-kelamaan sikap itu akan berubah menjadi suatu pemberontak kerana didikan yang tersebut dapat memberi kesan pada mental anak.

Ada banyak cara untuk para Ibu Bapa mendidik anak mereka dengan cara positif dan yang paling utama adalah keperibadian dari Ibu Bapa tersebut dan kesiapan mereka dalam mendidik anak. Ibu Bapa juga harus dapat membahagi waktunya dengan baik antara keluarga dan pekerjaan kerana banyak terdapat banyak Ibu Bapa yang hanya terfokus pada pekerjaan mereka dan selalu melupakan waktu dengan keluarganya. Padahal, keluarga adalah sesuatu yang penting dan juga harus diperhatikan. Dahulu kita selalu terbaca di surat khabar atau mendengar banyak terjadi kes ‘lari dari rumah’, terutama untuk para anak yang akan memasuki masa-masa remaja. Anak memerlukan perhatian yang lebih untuk mendidik mereka kerana jiwa mereka sangat tidak stabil dan rentan akan hal-hal terentu terutama tentang kehidupan terutama mereka mula melangkah masuk ke dunia remaja kerana mereka mula merasa untuk mencari jawapan apa tujuan mereka hidup mereka dan memerlukan seseorang untuk memberikan jawapan itu. Orang itu seharusnya Ibu Bapa.

Namun yang paling terpenting dalam mendidik anak adalah cintailah mereka dengan ikhlas, kerana dari cinta yang tulus dan ikhlas akan menciptakan masa depan yang cerah buat keluarga. Buat apa orang-orang hidup di dunia ini, jika bukan untuk meraih kebahagian dan ciptakanlah sebuah perasaan yang ikhlas dan berilah mereka sebuah kasih sayang yang tak ada batas kerana mereka anak kita adalah sebagian dari diri kita. Ada beberapa tips ‘Dr Fadzilah Kamsah’ untuk Ibu Bapa atau kepada yang ‘bakal’ menjadi Ibu Bapa untuk mendidik anak mereka:

1. Yang utama, apa yang Anda lakukan
Hal ini merupakan salah satu prinsip terpenting. Anak-anak memerhatikan Anda. Jangan memberikan reaksi yang impulsif.

2. Terlibat dalam kehidupan anak
Tentu memerlukan waktu dan Anda perlu menyusun kembali prioriti Anda. Seringkali, ini bererti mengorbankan apa yang ingin Anda lakukan, dengan melakukan apa yang diinginkan atau diperlukan anak. Selalu siap untuk anak Anda baik secara mental mahupun fizik.

3. Sesuaikan dengan karakter anak
Setiap anak memiliki karakter berbeza. Boleh jadi anak Anda sedang merasa depresi. Memaksanya untuk melakukan keinginan Ibu Bapa bukan merupakan jawapan. Jika perlu, permasalahan ini harus dibincang dengan seorang profesional.

4. Menetapkan dan menerapkan aturan
Bila Anda tidak mengatur perilaku anak dari kecil, Anda akan mengalami kesulitan pada saat dia lebih besar, terlebih ketika Anda tidak ada di dekatnya. Aturan yang dipelajari anak dari Ibu Bapa sejak kecil, akan membentuk aturan-aturan yang diterapkannya di kemudian hari.

5. Membantu mengembangkan kemandirian
Memberikan dukungan terhadap kemandiriannya dapat membantunya mengembangkan arah tujuan yang akan diambil kelak. Banyak Ibu Bapa salah mengertikan kemandirian anaknya, dan menyamakannya sebagai pembangkang dan pemberontak. Anak-anak menuntut kemandirian, kerana kemandirian merupakan bagian dari sifat dasar manusia untuk merasa terkendali, dan bukan merasa dikendalikan oleh orang lain.

6. Bersikap konsisten
Bila aturan yang Anda berikan kepada anak berubah-ubah dari hari ke hari, atau bila Anda memaksa anak melakukan sesuatu hanya untuk waktu yang sebentar-sebentar, wajar jika anak menjadi bingung. Selalulah berusaha bersikap konsisten agar anak Anda tumbuh menjadi orang yang konsisten dan tak bingung dengan tujuan hidupnya.

7. Hindari disiplin kasar
Janganlah pernah punya keinginan untuk mengalahkan anak. Anak yang sering ditampar lebih mudah berkelahi dengan anak-anak lain, dan kemungkinannya lebih besar bagi mereka untuk menjadi penggertak atau menjadi agresif dalam mengatasi perselisihan dengan orang lain. Banyak cara untuk mendisiplinkan anak salah satunya dengan mengikut sunnah Rasulullah saw cara mendisiplinkan keluarganya.

8. Jelaskan aturan dan keputusan Anda
Umumnya, Ibu Bapa memberikan penjelasan yang berlebihan pada anak yang masih kecil, dan memberikan penjelasan yang kurang pada anak yang sudah remaja. Padahal, sesuatu yang nampaknya jelas bagi Anda belum tentu jelas bagi anak Anda yang berusia 12 tahun. Anak Anda tidak memiliki prioriti, penilaian atau pengalaman seperti yang Anda miliki.

9. Perlakukan anak Anda dengan hormat
Cara terbaik agar anak menghormati Anda adalah dengan memerlakukannya dengan hormat. Anda harus memberi kebaikan pada anak Anda seperti kebaikan yang Anda berikan pada orang lain. Berbicaralah dengan cara yang sopan kepadanya. Hormati pendapatnya. Dengarkan dengan sungguh-sungguh bila dia berbicara. Anak-anak akan memperlakukan orang lain sebagaimana Ibu Bapanya memperlakukannya. Hubungan Anda dengan anak Anda merupakan tapak asas bagi hubungannya dengan orang lain.

Wallahu’alam…~











.:::ANNAEM:::.
-jakartabarat-
-khamis, 0833, 20012011-