Saturday, May 1, 2010

::- People come people go...~ -::

.::Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang::.

Pertemuan itu kerana Allah dan Perpisahan juga kerana Allah…

ketika saya sedang berehat-rehat setelah studi, seorang kawan mengirimkan SMS .

Dia menaip (dan saya kutip tepat seperti yang ia katakan) : “I don’t agree with ‘friends come and go’. They COME when u use ur heart,they GO when u use ur Ego”.

Kalimat pendek itu adalah kalimat yang cukup menyentuh nurani saya dan merangsang fikiran untuk menganalisisnya….
Kenape?
Kerana saya adalah individu yang mempercayai bahwa di kehidupan yang fana ini tidak ada suatu hal yang kekal.

Semua pasti berubah.

Dengan bak kata lain, iya tentunya, akan tiba masa dimana kawan-kawan yang selama ini hadir dan datang dalam hidup kita akan pergi tau!

Segala hal sudah pasti berubah dalam kehidupan kita ini.

Pada satu masa akan ada kawan yang datang, ketika kedua belah pihak merasakan keserasian maka hubungan tersebut pun dapat berlanjut. Kita kemudian menjalin persahabatan dengannya, menghabiskan waktu bersama, tertawa dan bahkan menangis bersama, melakukan bermacam-macam perkara bersama tanpa menyedari waktu kebersamaan tersebut tetap berjalan serta berlalu.
Tidak menyedari waktu yang terus berjalan tersebut sampai kemudian tiba pada satu titik dimana konflik mungkin saja muncul. Perjalanan yang paling mulus pun pastilah memiliki lubang, sekecil atau sebesar apapun juga. Ketika lubang itu hadir dalam hubungan persahabatan yang terjalin, rasa tidak puas hati pun mulai muncul. Masing-masing pihak tetap akan keyakinan bahwa dirinya lah yang paling benar. Terkadang bahkan konflik tidak ada dan keduanya memilih untuk diam seribu bahasa tanpa merasa perlu untuk mengucapkan satu patah kata pun.

Ketika itu yang terjadi lalu apa yang akan dilakukan..??

Saya percaya dari dua pilihan saja yang tersedia disini, inilah saat dimana kita dapat menggunakan hak kita untuk memilih secara bebas pilihan yang tersedia. Kita dapat bertindak berdasarkan hati kita. Atau kita dapat lebih memilih untuk bertindak mengikuti Ego kita.

Pada titik inilah, persahabatan yang terjalin selama itu akan tiba pada masa-masa ujian.
Akankah persahabatan tersebut dapat dipertahankan atau akankah ia usai begitu saja.

Persahabatan itu sendiri sudah tentu melibatkan paling sedikit dua pihak.
Dan ketika sudah ada lebih dari dua pihak yang terlibat bererti lebih banyak pula fikiran, perasaan serta perilaku yang berbeza-beza yang terlibat.
Saya tentunya tidak dapat menuntut pihak lain untuk benar-benar memiliki fikiran, perasaan dan tindak tanduk yang sama dengan saya.

Berdasarkan hal itulah maka saya tidak terlalu setuju dengan dengan quote itu
Buat saya kawan memang pasti akan datang dan pergi….

Namun saya setuju sekali dengan kalimat keduanya :
Ketika saya mampu untuk mendengarkan kata hati saya persahabatan yang terjalin dapat tetap dipertahankan, sedangkan ketika saya tetap dengan Ego saya maka persahabatan tersebut dapat tiba pada titik akhir.
HANYA SAJA, ini bukanlah keadaan yang sudah pasti!

Saya boleh je lebih banyak menggunakan hati saya dan mencuba mengatasi keadaan yang ada sebijak mungkin, tetapi tetap saja si kawan memutuskan untuk pergi.
Saya boleh pula poyokan diri menggunakan Ego saya tapi si kawan dengan setia tetap berada di samping saya.

Hal itu bergantung pada pilihan mereka dan pilihan mereka semata je...

Sehingga saya sampai pada kesimpulan bahwa dalam konflik yang muncul, serta dalam usaha untuk mempertahankan jalinan persahabatan yang ada, selama saya sudah yakin bahawa saya telah melakukan setiap usaha sebaik mungkin secara bijak mengikuti kata hati yang ada, maka apapun yang kemudian menjadi pilihan kawan saya dan segala tindakan yang dilakukannya sama sekali bukan urusan ataupun kuasa saya.

Dia dapat saja beranjak pergi.
Dia juga dapat saja tetap tinggal.

Semua hal tersebut benar-benar murni merupakan pilihannya & pilihannya semata. Semua itu atas takdir Allah SWT.

Saya hanya dapat memastikan bahwa saya telah berbuat semaksimum mungkin (maksimum berdasarkan penilaian saya tentunya, kerana keadaan maksimum bagi setiap orang memiliki erti yang sangat subjektif).

Lagi pula terkadang waktu untuk bersama-sama sudah berakhir.
Setiap pihak yang selama ini terlibat bersama sudah tiba pada sebuah persimpangan dan masing-masing pihak harus mengambil jalur yang berbeza.
Ketika kita enggan untuk saling melepaskan, kita malah akan terhambat dan tetap terus-menerus di persimpangan tersebut yang menyebabkan kita tidak boleh lagi meneruskan perjalanan kita untuk terus belajar berkembang menjadi individu yang lebih baik dalam hidup ini.

Jadi sekali lagi, saya berfikir jika memang persahabatan yang saya jalin selama ini mengalami ujian, saya hanya dapat memastikan bahawa saya akan dan telah melakukan semaksimum mungkin yang boleh saya lakukan.
Setelah itu, dengan ikhlas, saya menyerahkan hasil akhirnya kepada Yang Maha Kuasa.
Saya dengan senang hati bersedia menyerahkan keputusan akhir kepada-Nya selama saya tahu bahawa saya telah berbuat semaksimum mungkin.

Jika memang jalinan tersebut masih dapat dipertahankan, saya bersyukur.
Jika memang jalinan tersebut harus terputus dan kami memilih jalan yang berbeza, saya pun bersyukur.
Saya tetap akan menyimpan dan mensyukuri setiap saatyang telah kami lalui bersama kerana saya yakin saat apapun itu yang telah kami lalui bersama pastilah memberikan pelajaran tersendiri bagi diri kami masing-masing.

Pada titik dimana saya harus melepaskan kelekatan yang ada, maka dengan keikhlasan kelekatan itu pun saya lepaskan.
Tanpa penyesalan, namun diiringi dengan emosi yang tepat.

Persahabatan memang suatu hal yang menjadi perasa sedap dalam kehidupan sosial kita.
Ketika perasa tersebut sudah tidak serasi lagi dengan masakan yang akan kita buat, dan bahkan setelah bermacam-macam percubaan usaha maksimum tetap tidak serasi, mungkin memang sudah saatnya kita mengganti perasa tersebut.
Kecuali jika kita ingin menghasilkan masakan dengan rasa yang aneh di lidah ini dan hampir tidak mungkin untuk dinikmati.

Benar-benar sebuah SMS yang kemudian menghasilkan proses berfikir yang menyenangkan.
Proses berfikir yang mungkin sedang saya perlukan saat ini.

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah berkongsi proses berfikir ini dengan saya… Q(^^,)V

.::ANNAEM::.

-jakartabarat-


3 comments:

ibnyusoff said...

quote,"Saya hanya dapat memastikan bahwa saya telah berbuat semaksimum mungkin (maksimum berdasarkan penilaian saya tentunya, kerana keadaan maksimum bagi setiap orang memiliki erti yang sangat subjektif)".

kenape harus gne penilaian sendiri di saat ade penilaian yang lebih baek?-ie: nilaian Islam-

p/s:sekadar bertanya dan berkongsi..

Naem said...

owh... maknenye... usaha yg semaksimum mereka... bergantung kemampuan dirinya... contoh ade org boleh angkat beban 50 kg... sedangkan yang lain x boleh... dan nilai itu subjektif pada setiap manusia... bg ana itu yg mampu ana buat...dengan izin Allah... wuallahu'alam..

Anonymous said...

salam...
woa, post psl kwn...ssh ni..haha... um, ssh kot nk komen, xtau nk tules pe... dol...

-DarkChrome-